Translate

Vrydag 26 September 2014

ANTARA WANITA DAN ILMU SYAR'I



Ilmu adalah segalanya. Apapun aktifitas manusia tak akan lepas dari peran ilmu. Ilmu adalah nikmat Allah yang agung. Dengan ilmu, manusia akan dapat meraih kebahagiaan di dua negeri, dunia dan akhirat. Kebahagiaan di dunia berupa keselamatan dari kesesatan dan dekat kepada petunjuk Allah. Hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan ilmu. Kebahagiaan di akhirat berupa keselamatan dari api neraka. Hal ini pun tidak akan tercapai kecuali dengan ilmu. Hati pun akan hidup dengan cahaya ilmu dan berilmu merupakan ciri seorang yang beriman.
Bahkan tidak akan berguna suatu amal tanpa ilmu, karena ilmu merupakan imam (pemimpin) bagi amal. Pendek kata tidak ada kehidupan tanpa ilmu, tidak ada kebahagiaan tanpa ilmu dan tidak akan tenang dan damai kehidupan manusia tanpa ilmu, lalu Ilmu apakah yang dapat mewujudkan semua itu? Ilmu jenis manakah yang dapat mengantarkan manusia menuju kebahagiaan sesungguhnya? Serta sederet pertanyaan lain terbetik di setiap benak kita. Jawabannya singkat yaitu ilmu syar'i, ilmu yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, bukan ilmu yang muncul dari kepala para filosof atau dari hasil otak-atik aqlaniyun (pemuja akal) dan yang semisal mereka. Bahkan kebanyakan yang datang dari mereka tidak layak dikategorikan ilmu, melainkan ilham yang datang dari setan belaka.
Berkata Imam Syafi'i رحمه الله :
"Semua ilmu selain Al-Qur'an hanyalah menyibukkan belaka kecuali ilmu hadits dan fiqhi dalam agama, (hakikat) Ilmu adalah yang didalamnya ada perkataan "Telah disampaikan kepada saya" (Hadits) adapun selain itu maka dia hanyalah was-was syaithan" Ilmu (syar`i) adalah firman Allah, sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa sallam dan ucapan para shahabat, bukan selain itu.
Demikian para ulama menerangkan bahwa Ilmu syar`i wajib diketahui dan dimiliki oleh setiap manusia yang mengaku dirinya muslim, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa sallam bersabda :
( طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِ يْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ ( رواه أحمد و ابن ماجه
"Menuntut ilmu adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim" (HHR. Ahmad dan Ibnu Majah) Kata-kata "Muslim" dalam hadits ini bermakna umum baik laki-laki atau perempuan, tua atau muda, tidak pandang bulu. Kita wajib bersyukur kepada Allah karena semakin maraknya majelis-majelis ta`lim, telah masuk dan menjamur di seluruh pelosok masyarakat muslimin lewat kajian-kajian rutin hal ini merupakan satu fenomena yang membesarkan hati kaum muslimin di satu sisi, namun di sisi lain terasa sangat memprihatinkan. Jika kita tengok kasus-kasus yang terjadi, khususnya yang menimpa saudari-saudari kita kaum muslimah. Ternyata bukan ilmu syar'i yang mereka bawa pulang ke rumah dan bukan bekal hidup di dunia dan akhirat yang mereka peroleh. Terbukti ketika mereka berangkat dengan kerudung penutup leher dan kepala, tetapi pulang dengan telanjang. Mereka berangkat sendiri, namun pulang diantar seorang bujang. Dan yang lebih tragis dan mengenaskan lagi --na`udzubillahi min dzalik-- mereka berangkat dengan perut kempes dan pulang dengan perut berisi bayi tanpa jelas bapaknya. Salah siapa ini? Ustadznya kah? Atau Ataukah Orang tuanya? Atau siapa? Lalu bagaimana solusinya?
Islam agama yang mulia terbebas dari sifat cela. Islam menuntut umatnya hidup mulia tanpa noda. Maka bisa dipastikan kerusakan yang terjadi di dunia pendidikan tingkat atas atau tingkat bawah, di kota atau di desa, di masjid Jami' atau di surau, atau di mana saja adalah karena mereka telah membuang dan melalaikan tuntunan Islam. Mereka mendiskreditkan Islam atau meninggalkan proses belajar mengajar ala Islam yang akan membuahkan muslimah yang tangguh dan kuat pendiriannya, tetap tegak meski topan dan badai menghantamnya.
Gejala dan fakta yang menimpa sebagian muslimah dalam mencari ilmu adalah bahwa mereka mereka menuntut ilmu hanya sekedar untuk mendapatkan ijazah, pekerjaan, atau gelar saja, padahal pengertian ilmu adalah yang sebagaimana dikatakan Imam Ibnul Qayyim رحمه الله :
اَلْعِلْمُ قَالَ اللهُ وَ قَالَ الرَّسُوْلُ وَ قَالَ الصَّحَابـَةُ هُمْ أَوْلَو العِرْفَانِ
"Ilmu adalah firman Allah, sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa sallam dan perkataan para shahabat merekalah orang-orang yang berilmu"
Wahai ukhti fillah, bahwasanya Islam semenjak cahayanya terbit telah memerintahkan kaum wanita untuk menuntut ilmu yang bermanfaat. Tentunya dengan metode yang tidak melanggar syar'i, yaitu tidak ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan perempuan), bahkan khalwat (berduaan antara laki-laki dan perempuan di tempat yang sepi), atau apa saja yang melanggar syar'i. Lain halnya dengan wanita masa kini, sungguh jauh berbeda dengan keadaan wanita-wanita salafiyah terdahulu.
Adapun ilmu yang wajib dipelajari setiap muslimah adalah ilmu yang berkaitan dengan Al-Kitab (Al-Qur'an) berikut tafsirnya, Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa sallam, Tauhid dan Fiqh.
Metode thalabul ilmi syar`i bagi wanita dapat diperoleh dengan beberapa cara diantaranya dengan membaca kitab-kitab Islam, mendengarkan kaset Islami sampai kajian rutin dan mengikuti ceramah ilmiah. Perlu ditekankan di sini bahwa metode ini semua harus dilakukan atau ditempuh dengan mengikuti bimbingan para ulama salaf dan menghindari pelanggaran-pelanggaran syariat meskipun hanya perkara kecil.
Seorang ibu akan banyak mengambil faedah dari ilmu ini, karena dia sebagai madrasah, pendidik sekaligus teladan bagi anak-anaknya, ia mempunyai tanggung jawab mendidik anak-anaknya menjadi anak yang sholih dan sholihah, yang mana hal ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah.
Figur shahabiyah yang tepat dalam memilihkan madrasah bagi anaknya adalah Ummu Sulaim binti Milhan yang mengutus anaknya (Anas bin Malik) untuk menjadi Khadim (pelayan) Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sekaligus menuntut ilmu dan bermulazamah bersama beliau Shallallahu 'Alaihi wa sallam. Lain halnya dengan mayoritas ibu-ibu masa globalisasi ini, mereka justru memilihkan sekolah bagi anak mereka sekolah yang tidak mengajarkan ilmu syar'i secara menyeluruh, melainkan hanya beberapa jam saja dalam sepekan.
Ilmu syar`i akan berpengaruh kepada seluruh kehidupan muslimah pada umumnya. Ilmu syar'i akan mendorong muslimah untuk menjadikan rumahnya berdengung dengan dzikir dan bacaan Al-Qur'an yang tidak terdengar darinya nyanyian-nyanyian, senandung yang hampa dan maksiat-maksiat lainnya Namun perlu diingat bahwa orang-orang kafir dan orang-orang fasiq tidak ada yang suka bila kaum muslimah meneguk dan meminum ilmu syar`i. Maka bagi seorang wanita muslimah perlu berhati-hati terhadap propaganda dan makar serta umpan dan jerat mereka yang mereka pasang di setiap jalan. Hanya wanita yang lalai dari ilmu syar'i saja yang akan tertarik dan termakan oleh makar mereka, naudzubillahi min dzalik, dan hanya muslimah yang mendalami ilmu syar`i yang akan selamat dan mampu menolak serta melawan tipu muslihat dan makar mereka.
Seorang muslimah juga wajib membekali dirinya dengan ilmu sebelum memasuki jenjang pernikahan, sehingga ia dapat menunaikan kewajibannya sesuai dengan tuntunan syari'at.
Sebagai seorang istri, seorang muslimah juga dituntut untuk menjadi istri yang shalihah sehingga ia bisa menjadi perhiasan dunia yang paling baik, bukan justru menjadi fitnah atau musuh bagi suami. Dari Abdullah bin 'Amr bin Al Ash (, Rasulullah ( bersabda :
( اَلدُّنـــْيــَامَتـَاعٌ وَخَيْرُ مَتـَاعِ الدُّنْيـَا اَلْمَرْ أَ ةُ الصَّالِحَةُ ( رواه مسلم
"Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah" (HR. Muslim) Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan sifat-sifat wanita shalihah :
( ...فَالصَّالِحَاتُ قَانِـتـَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهُ ( النساء : 34
"... maka wanita yang sholihah, ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena itu Allah telah memelihara mereka". (QS. An Nisaa:34).
Berkata Syaikh Abu Bakar Jabir al Jazairi dan Syaikh Salim Al Hilali حفظهما الله : "Wanita yang sholihah adalah yang menunaikan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan mentaatinya, mentaati Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa sallam dan menunaikan hak-hak suaminya dengan mentaatinya dan menghormatinya, serta menjaga harta suami, anak-anak mereka dan kehormatannya tatkala suami tidak ada"
Bagi seorang muslimah yang belum menikah maka sebagai anak ia wajib taat pada kedua orangtuanya selama tidak dalam kemaksiatan.
Semua fungsi dan peran tersebut tidaklah mungkin dicapai kecuali dengan menuntut ilmu syar'i, sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh para muslimah generasi terdahulu (salafus sholih). Diriwayatkan dari Abu Sa'id al Khudri ( , ia berkata :
قَالَتْ النـِّسَاءُ لِلنــَّبِيِّ : "غَلَبــَـنَا عَلــــَيْكَ الرِّجَالُ فَاجْعـَلْ لَنَا يَوْمـًا مِنْ نــَفْسِكَ" فَوَعَدَهُنَّ يـَوْمـًا لَقِيـَهُنَّ فِيْـهِ فَوَعَظَـهُنَّ وَأَمــَرَهُنَّ . رواه البخار
"Berkata kaum wanita kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa sallam : "Kami telah dikalahkan oleh kaum lelaki (dalam ilmu), maka jadikanlah bagi kami satu harimu (agar engkau mengajarkan kepada kami apa yang telah Allah ajarkan kepadamu). Maka beliau mebuat perjanjian kepada mereka untuk menentukan hari pertemuannya, maka beliau menasehati mereka dan memerintahkan mereka (bersedekah) pada hari tersebut (H.R.Bukhari)
Sesungguhnya alam dunia ini adalah rumah tempat beramal dan akhirat adalah rumah tempat kembali. Bersemangatlah untuk menuntut ilmi syar`i yang bermanfaat dan mohonlah kepada Allah agar Dia mengajarkan kepada kita pengetahuan dan pemahaman dan Dia jadikan ilmu itu bermanfaat dalam kehidupan dunia dan akherat.
-Razif Abdullah-
Maraji':
Atsarul 'Ilmi As-Syar' Fi Hayati Al-Mar'ah, Ummu Hasan
(Al Fikrah Tahun 2 Edisi 2)
 
Sumber:http://ilmuislam-99.blogspot.com/
erkadang, aku merasa menjadi bukan diriku. Apalah artinya jika senyatanya hidup adalah topeng palsu di balik tubuh yang hilang akan sukmanya. Ketika nafas yang ku hirup hanyalah sebuah teori yang terasa tidak benar-benar terjadi. Dan bibir kaku ku dipaksa untuk tersenyum palsu pada wajah-wajah baru.
“Namaku Adelia, kalian bisa memanggilku Adel. Dan aku senang bertemu kalian semua,” kataku memperkenalkan diri pada wajah-wajah asing di depanku. Ya, aku siswi baru di sekolah. dan perlu kuberi tahu bahwa ini bukan pertama kalinya aku mengalami ini. Maksudku, berdiri kaku dengan senyum yang ku paksakan seperti ini. Ayahku seorang Pegawai Negeri yang entah berapa kali berpindah-pindah tugas. Imbasnya, aku harus berpindah-pindah sekolah mengikuti tempat dimana Ayahku bekerja.
Pak Wisnu mempersilahkanku untuk memilih tempat duduk yang ingin kududuki, dan seorang laki-laki dengan wajah dingin sukses menarik perhatianku untuk duduk di sebelahnya. Semua orang menatapku bingung, aku pun tak kalah bingungnya dengan apa yang salah. “Pindah,” kata laki-laki di sebelahku. “Kenapa?” tanyaku keheranan. “Aku tidak mau siapa pun duduk di sebelahku,” jawabnya datar. “Untungnya aku bukan siapa pun,” jawabku yang langsung membungkam mulutnya. Dia menghela nafasnya perlahan, kemudian tanpa banyak bicara dia segera berdiri dan beranjak ke luar kelas. Misterius.
Entah berapa kali ku lirik dentingan jam dinding itu, seolah bait novel yang sedari tadi kubaca tak ingin bersahabat dengan mataku. Waktu berjalan sangat lambat menurutku. Bahkan jam istirahat yang kuharapkan berlalu sangat cepat, nyatanya justru menertawai kebosananku.
“Suka baca novel ya?” sahut sebuah suara membuat wajahku menoleh reflek. Kali ini laki-laki yang berbeda dengan teman sebangkuku. Dia tersenyum ramah, dan tanpa meminta izin dia menarik bangku di sebelahku dan mendudukinya. “Gavin,” katanya yang menyadari kebingunganku. “Namaku Gavin, aku duduk tiga meja di sebelah kananmu.” “Oh,” balasku singkat. Aku kembali sibuk dengan novel. “Kenapa lebih memilih duduk di kelas?” tanyanya lagi. “Tidak lapar kah?” “Sama sekali tidak,” jawabku berbohong karena kenyataannya perutku sejak tadi menari-nari meminta diisi. “Aku suka novelmu, caramu menceritakan benar-benar membuat pembacanya terbawa suasana,” kata Gavin yang membuatku tertegun sesaat. “Novelku?” tanyaku takut salah dengar. Gavin mengangguk. “Kamu Adelia, si penulis novel Senja kan?” katanya yang langsung membungkam mulutku. Dia tahu novelku. Novel yang menurutku langsung terbenam setelah ia terbit. “Iya. Aku penulis novel Senja, novel yang gagal di pasaran,” kataku. “Siapa bilang?” sangkalnya cepat. “Novelmu itu bagus. Kamu hanya kurang berani untuk mengirimkannya pada penerbit terkenal.” “Jangan memuji, kalau pun aku mengirimkannya pada penerbit ternama, aku yakin pasti ditolak,” kataku pesimis. Aku menyadari tatapan herannya dari sudut-sudut mataku, kemudian perhatiannya tertuju pada novel yang kubaca. “Akhir dari novel ini bagaimana?” tanyanya. “Tidak tau. Aku belum selesai membacanya,” jawabku tanpa menoleh. “Kamu tidak bisa menebak?” tanyanya lagi. “Tentu tidak.” “Tentu tidak ya? Lalu bagaimana mungkin kamu tahu soal novelmu akan ditolak padahal kamu belum mengirimkannya?” tanya Gavin yang kali ini benar-benar membuatku tertegun. Aku diam seribu bahasa, meski di sisi lain aku suka dengan caranya mengumpamakan sesuatu. Dan tanpa kusadari, bibirku yang pucat merekahkan senyumnya. Kali ini benar-benar tersenyum, bukan lagi senyuman palsu.
Sore itu sebuah buku kecil dan sebatang pensil telah kumasukkan ke dalam tas kecilku. Rumah tidak selalu membuatku nyaman. Aku memutuskan untuk menghabiskan sisa hari ini di luar. Aku rindu dengan sesuatu. Sungai kecil dengan jembatan kayu yang melintang di atasnya ternyata cukup untuk menarik perhatian kedua kakiku. Kuambil posisi menghadap ke pinggir jembatan. Dari sana aku bisa melihat senja. Suasana senyaman inilah yang aku rindukan. Segera kutulis apa pun yang melintas di pikiranku. Aku tidak tahu entah berapa lama aku sibuk dengan tulisanku, sampai- sampai tidak menyadari kehadiran seorang laki-laki yang belum kukenal namanya. Ya, dia teman sebangku di sekolah. Orang misterius itu berdiri tepat di sebelahku. “Kamu,” kataku menghentikan tulisanku sejenak. “Renji,” jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari senja yang memerah. “Namaku Renji.” “Oh, ngapain di sini?” tanyaku. “Ini Kotaku. Aku bebas pergi kemana pun aku suka,” jawabnya, kemudian melirik tulisanku sekali. “Mengapa kamu begitu menyukai senja?” Aku melirik kembali tulisanku yang belum selesai, dan kemudian menutupnya. “Senja memberiku pelukan nyaman saat aku menatapnya. Jika aku kesepian, aku kembali melihat senja.” “Masa lalu ya?” kata Renji. “Masa lalu?” ulangku tidak mengerti. “Ya. Tulisanmu itu jelas jelas menggambarkan senja adalah sosok yang menggantikan seseorang dalam hidupmu. Seseorang yang bisa ku tebak sangat berharga, di masa lalu,” katanya lagi. Aku diam. Kata-kata Renji barusan benar-benar seperti anak panah yang menancap tepat pada sasaran. Dia pintar membaca keadaan. Aku akui itu. Renji meraih kamera yang dari tadi tergantung di lehernya, kemudian mengambil beberapa sudut-sudut pemandangan yang menarik perhatiannya.
“Soal tadi siang, kenapa kamu memintaku pindah?” tanyaku begitu keingintahuan itu muncul. “Karena aku orang nomor satu di sekolah,” jawabnya tanpa berhenti memotret. Dari sudut bibirnya, aku bisa melihat bahwa ia tersenyum. Tepat setelah dia selesai bicara.

Kuhempaskan pensil yang sedari tadi melekat di jemariku, seakan jemariku tak lagi akrab dengannya. Kutatap rintikan hujan di jendela kamarku. Satu-satunya yang patut aku salahkan adalah hujan. Aku benci hujan. Imajinasiku seakan ikut buyar karena derasnya. Dan bukan cuma itu, irama rintikannya seolah mencoba membuka kembali kenangan lama yang telah kusimpan di balik debu-debu masa lalu. “Kenapa? Kamu baik-baik aja?” tanya Gavin yang memperhatikanku. Dia meneguk teh hangat yang sengaja kusajikan karena menemaniku mengerjakan tugas cerpen yang diberikan Pak Bowo. “Aku benci hujan,” kataku pelan. “Kenapa?” “Hujan membuka kembali memori yang sejak lama kusembunyikan darinya,” jawabku yang masih menatap rintikan hujan. Gavin menarik sebuah bangku, dan mendudukinya tepat di sebelahku. “Jadi, mau cerita sesuatu?” Aku menimbang-nimbang sebentar, dan akhirnya kuputuskan untuk bercerita. Ini tentang seseorang. Aku pertama kali mengenalnya saat hujan yang turun di akhir Desember. Dia datang dengan menyelamatkanku dari derasnya hujan. Dia baik, sangat baik karena semua perkataan indahnya mampu membuatku tetap terjaga dari kantukku. Bahkan pundaknya selalu kumiliki jika aku lelah. Aku dan dia telah menghabiskan waktu yang cukup lama menurutku. Orangtuaku pun menyukai sikapnya yang santun. Semua orang mengatakan aku wanita yang beruntung. Tapi ternyata tidak. Dia pergi dengan memilih orang lain tepat di hadapanku. Aku tidak sendiri saat itu, hujan lagi-lagi menemaniku. Dan sejak saat itulah aku mulai membenci hujan. Gavin meneguk kembali tehnya, kemudian terdiam seolah merasakan kesedihanku. Aku pun tak ingin berkata-kata. Dia memandang ke luar jendela untuk beberapa saat, dan bibir merahnya kemudian tersenyum. “Kamu tau tidak, bukan salah hujan jika semua itu terjadi,” kata Gavin. “Dia cuma kiriman Tuhan yang menjadi saksi atas kepergian ‘orang yang salah’ itu. Tuhan tidak ingin kamu bersama dengan orang yang salah, itu sebabnya dia mengirimkan hujan sebagai saksi yang selalu mengingatkanmu, agar suatu saat kamu tidak kembali bersama orang itu.” “Menurutmu begitu?” kataku yang terketuk oleh kata-kata Gavin barusan. Dia mengangguk yakin, kemudian berdiri dari tempat duduknya, membuka jendela kamarku, dan melompat ke luar menyerbu derasnya hujan. Aku hampir saja berteriak namun wajahnya membungkam mulutku. Gavin tampak menyukai hujan. Dia tidak takut sama sekali. Direntangkannya kedua tangannya sementara wajahnya mengadah ke atas, tersenyum. Aku diam, takjub. “Lihat kan? Hujan tidak seburuk yang kamu pikir. Buktinya, dia membelaiku dengan lembut,” katanya setengah berteriak mengalahkan gemuruhnya suara hujan. Aku menatap matanya dalam-dalam. Mata yang teduh itu menggerakkan bibirku untuk kembali tersenyum. “Dengar Adel, aku tau ini mungkin terlihat konyol. Tapi aku yakinkan satu hal, bahwa aku mampu menghapus kenangan pahit itu. Hanya saja aku tidak bisa melakukannya sendirian, aku butuh izin untuk masuk ke dalam hatimu, menuntunmu ke luar dari bayang bayang masa lalu,” katanya lagi yang masih berteriak. Aku terdiam membeku di tempatku berdiri, telingaku terasa berdenging menerima kata-kata indah Gavin barusan. Bahkan jantungku ikut memberontak dari tempatnya. “Aku tidak pernah berpikir bahwa kamu bisa melakukan hal segila ini,” kataku. Gavin tersenyum. “Adel, cinta itu ajaib.”

Aku menatap kertas yang tertempel di pintu kelas, dan seketika senyum pun tak kuasa kutahan. Cerpen yang kuangkat tentang Gavin ternyata mendapat nilai tertinggi. Dia bahkan sampai malu karenanya. Kucari nama Gavin yang ternyata berada di urutan tiga. Aku baru tahu kalau Gavin menyukai dunia tulis-menulis. Dan oh ya, aku masih mencari nama seseorang, dan kutemui di urutan terbawah. Renji.
“Cerpenmu bagus,” kata sebuah suara yang tidak asing di telingaku. Aku menoleh dan mendapati Renji berdiri di belakangku. Segera saja kutarik jari telunjukku yang menempel tepat di atas namanya. “Jangan salah tingkah begitu. Aku udah biasa dapet nilai paling jelek,” katanya tanpa beban. “Bukannya kamu bilang kalau kamu orang nomor satu di sekolah? Lantas kenapa nilaimu malah yang terbawah?” tanyaku heran. “Ya. Aku memang orang nomor satu. Tapi bukan berarti aku yang paling pintar soal pelajaran. Asal kamu tau aja, aku payah dalam semua pelajaran,” kata Renji. “Lalu, kamu nomor satu dalam soal apa?” “Nakal. Aku paling berandalan di sekolah. Tidak ada pelajaran atau hal yang aku sukai selain menghabiskan waktu bersama kameraku. Bukan tanpa alasan orang-orang memanggilku preman fotografer,” jawabnya sambil tertawa renyah. Aku ikut tertawa, dan sedetik kemudian tawaku lenyap ketika seseorang yang sangat akrab di benakku muncul dari belakang Renji. Dia tersenyum padaku. “Adel,” sapanya, membuat Renji tampak kaget dengan orang yang tiba-tiba muncul itu. “Adam?” kataku heran. “Kamu…” “Aku ke sini untuk kamu, Del,” katanya memotong ucapanku. “Aku mau minta maaf.” Renji menatap aku dan Adam bergantian, dan seperti sudah mengerti, dia segera masuk ke dalam kelas. Aku baru saja akan mengikutinya, namun tangan Adam menahan lenganku. “Jangan pergi. Kita punya banyak hal yang harus dibicarakan,” katanya menghentikan langkahku. Aku membalikkan tubuhku dan menatap wajah itu. Wajah yang dulu mengukir luka di atas kebahagiaan. Wajah yang menjadi hujan di atas indahnya pelangi.
“Nggak ada yang perlu dibahas, Dam,” kataku perlahan. “Kamu udah nentuin pilihan kamu, dan aku pergi dengan coretan luka yang kamu goreskan.” “Aku nyesel, Del. Aku ingin kamu dan aku kembali menjadi ‘kita’. Kamu mau kan? Kamu mau kembali menyusun mimpi-mimpi kita yang pernah hancur karena keegoisanku?” katanya. Aku menatap mata yang tidak pernah berubah itu. Andai Adam tidak merusak segalanya, andai tidak pernah ada orang lain di antara kita, aku pasti sudah memeluk tubuh tegap di hadapanku ini. Dan entah keajaiban apa yang membuat hujan turun saat itu. Namun kali ini aku bersyukur karenanya, aku ingat bahwa hujan adalah saksi kepergian Adam demi orang lain. Aku sadar bahwa hujan menyimpan makna di balik derasnya. Aku tidak akan kembali. Tidak lagi. “Del?” suara Adam menyadarkanku. Dia menunggu jawaban. Dan aku telah membuat jawaban. “Tahukah kamu betapa sulitnya menemukan kembali hari-hariku yang selama ini terkunci di balik bayang- bayangmu? Dan aku menemukannya. Lalu, apa yang membuatmu ingin kembali merusak hari-hariku dengan hadirmu?” kataku yang membuatnya tertegun. “Adel…” “Udah, Dam. Kita udah lalui banyak hal. Kita udah buat keputusan kita masing-masing, aku berterima kasih telah mengenalmu. Semua yang kita lalui, adalah pelajaran menuju kedewasaan bagi kita. Sekarang aku dan kamu bukan lagi ‘kita’. Ingat Dam, ada hati yang harus kamu jaga di sana,” kataku lagi. Aku menundukkan wajahku, menyembunyikan air mata yang seharusnya tak kujatuhkan di hadapannya. Dia tidak berhak untuk melihat air mata yang jatuh itu. “Adel, kamu…” “Hey orang bodoh yang tidak tau sopan-santun!” suara Renji membuat wajahku terangkat. Renji berjalan menghampiriku, dia menyadari air mata yang membendung kedua mataku namun sikapnya seolah tidak melihat apa pun. Dia malah melepaskan tangan Adam yang sedari tadi menahan lenganku. “Dengar ya sialan. Aku tidak tau siapa kau dan aku tidak peduli soal itu. Adel telah menjawab pertanyaanmu dan telah membuat keputusan. Kalau kau masih memaksa, itu artinya kau membuat ulah, dan ingat,” kata Renji menghentikan ucapannya, dia lebih mendekatkan wajahnya pada wajah Adam, keduanya saling menatap tak mau kalah. “Ini sekolahku, sekarang pergi dan jangan tunjukkan wajah sialanmu itu di sini atau kutendang bokongmu sampai keluar sekolah!” Aku tidak bisa membohongi diriku bahwa aku merasa takut. Aku takut sesuatu terjadi pada mereka. Adam tidak pintar dalam berkelahi, sedangkan Renji jelas-jelas diakui keberandalannya. Dan sekali lagi keajaiban terjadi, Adam memilih untuk pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tubuhnya menerobos derasnya hujan, dan sesaat kemudian hilang di balik pagar sekolah.
“Kamu telah membuat keputusan yang tepat,” kata Renji sambil menepuk pundakku, kemudian berjalan meninggalkanku yang masih diam menatap hujan, hujan yang tidak lagi kubenci.
29 Desember, pukul 16:50 Akhir Desember di musim hujan, aku, Gavin dan Renji kembali ke tempat dimana aku bisa melihat senja. Aku berdiri di antara Gavin dan Renji. Kami sama-sama menunggu senja yang tampak malu menunjukkan pesonanya. Aku tetap menunggu, karena aku yakin dia akan muncul. “Kamu tau nggak, arti namaku?” tanya Gavin memecah kesunyian. “Tidak. Memang apa?” tanyaku ingin tahu. “Penjaga,” jawabnya. “Dan rasanya tidak akan berguna jika aku tidak mempunyai sesuatu yang berharga untuk kujaga.” Aku terdiam, kulirik Renji yang asik memotret pemandangan dengan kameranya, seolah tidak mendengar apa pun. Jantungku mulai berdegup. “Maukah kamu menjadi sesuatu yang berharga itu?” tanya Gavin akhirnya. Aku mendekap mulutku. Akhirnya yang kubayangkan terjadi. Dan aku sekali lagi dituntut untuk membuat keputusan. “Kamu tau, Vin. Aku nggak bisa…” jawabku yang langsung membuat rona wajahnya berubah. Bahkan Renji sampai berhenti memotret. “Aku nggak bisa nolak permintaan itu,” lanjutku. Gavin tersenyum. Aku telah memilih senja yang baru. Segera kutarik pikiranku dulu bahwa tak akan kutemukan bahagiaku di Kota Solo. Senyatanya, Gavin menjadi ‘senja terakhirku’. Dan aku tidak takut untuk mencintai, karena jika aku memikirkan resiko yang akan terjadi, maka artinya aku tidak tulus. Inilah secercah harapan baru yang akan kutulis di halaman awal kisahku.

Cerpen Karangan: Ilham Sullivan

Sumber:http://cerpenmu.com/cerpen-cinta-romantis/senja-terakhir-3.html